Primary tabs

Diperlukan Pengetahuan dan Pemahaman Dalam Menghindari Berita Bohong.

 

Akhir-akhir ini dunia maya banyak muncul informasi berita bohong atau istilah sekarang lebih dikenal dengan berita “HOAX”. Kadang-kadang berita yang sudah lama bisa beredar lagi di sosial media. Ini membuat kesan bahwa berita itu baru terjadi dan bisa menyesatkan orang yang tidak mengecek kembali kejadiannya. Masih banyak lagi modus-modul lain yang digunakan sebagai cara untuk mengajak pembaca mengikuti dan mempercayai informasi yang dipublikasikan.

Semangat menggunakan dunia internet tidak sedikit membuat seseorang untuk mempercayai apapun bentuknya yang bersumber dari dunia maya tersebut.  Sehingga tanpa disadari apa yang diyakini bisa membawa mala petaka. Bukan hanya sanksi moral yang dirasakannya, akan tetapi bisa berakibat dari fatal bagi dirinya karena harus berurusan dengan hukum.

Beberapa bulan yang lalu, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung ditanya oleh salah satu siswa mengenai antisipasi berita Hoax, pada saat kunjungan ke salah satu sekolah SMK di Pangkalpinang. Gubernur pun menyarankan, untuk menggecek keaslian berita tersebut, sebagai langkah awal untuk mengantisasipasi berita itu bohong atau tidak.

Melihat pertanyaan tersebut, kita bisa melihat betapa meresahkanya berita atau informasi Hoax ke berbagai elemen masyarakat, salah satunya para siswa.

Kondisi seperti ini tidak bisa serta merta menghakimi masyarakat atau seseorang, mengingat keterbatasan pengetahuan untuk membedakan antara berita benar dengan berita palsu sangat sulit dibedakan.  Oleh karena ini perlu disosialisasikan kepada publik agar mengetahui ciri-ciri dan cara-cara mengetahui berita “hoax”.

Tujuan dari mengetahui ciri-ciri dan cara-cara mengetahui berita “hoax” adalah untuk memperoleh informasi yang benar dan untuk mendapatkan sumber berita yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara moral maupun legal serta menghindari perbuatan melanggar norma dan hukum akibat penyebaran berita hoax.

Berikut ini ada ciri informasi atau berita hoax yang mudah dikenali  menurut Selamatta, yaitu :

  1. Menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan (fear arousing)
  2. Sumber tidak jelas, pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah (one – side)
  3. Mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal (transfer device)
  4. Memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat (plain folks)
  5. Judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya
  6. Memberi penjulukan (name calling)
  7. Minta supaya dishare atau diviralkan (band wagon)
  8. Menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya   (stacking) 
  9. Artikel yang ditulis biasanya     menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya
  10. Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal. Media yang tidak jelas alamat dan susunan redaksi
  11. Manipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya.

Sementara untuk tahu cara-cara menghindari berita hoax, agar tidak terhasut oleh informasi yang menysatkan. Seperti yang terlansir pada halaman kompas.com, Minggu (8/1/2016), Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menguraikan lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoax dan mana berita asli. Berikut ini ada bebrapa hal yang bisa dilakukan antara lain :

1. Hati-hati dengan judul provokatif

Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax.

Oleh karenanya, apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya Anda mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya Anda sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

2. Cermati alamat situs

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita.

Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

3. Periksa fakta

Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat. Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.

Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

4. Cek keaslian foto

Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

5. Ikut serta grup diskusi anti-hoax

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Di grup-grup diskusi ini, netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.

Ini Cara melaporkan berita atau informasi hoax

Apabila menjumpai informasi hoax, lalu bagaimana cara untuk mencegah agar tidak tersebar. Pengguna internet bisa melaporkan hoax tersebut melalui sarana yang tersedia di masing-masing media.

Untuk media sosial Facebook, gunakan fitur Report Status dan kategorikan informasi hoax sebagai hatespeech/harrasment/rude/threatening, atau kategori lain yang sesuai. Jika ada banyak aduan dari netizen, biasanya Facebook akan menghapus status tersebut.

Untuk Google, bisa menggunakan fitur feedback untuk melaporkan situs dari hasil pencarian apabila mengandung informasi palsu. Twitter memiliki fitur Report Tweet untuk melaporkan twit yang negatif, demikian juga dengan Instagram.

Kemudian, bagi pengguna internet Anda dapat mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan melayangkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.

Masyarakat Indonesia Anti Hoax juga menyediakan laman data.turnbackhoax.id untuk menampung aduan hoax dari netizen. TurnBackHoax sekaligus berfungsi sebagai database berisi referensi berita hoax.  

Penjelasan Kenapa Timbul Hoax

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Atmajaya Yogyakarta Danarka Sasongko yang di muat dalam salah satu mendia onlien TEMPO.CO  menilai, literasi publik terhadap pesan-pesan di media sosial masih rendah. Hal itulah yang menyebabkan berita-berita palsu atau hoax banyak dibagikan oleh masyarakat di media-media sosial pribadinya. Itu merupakan penyebab hoax menjadi viral yang pertama.

Kedua, menurut Danar, dunia media sosial bagi masyarakat Indonesia adalah hal yang baru. Itu sebabnya, masyarakat tergopoh-gopoh berhadapan dengan dunia yang baru tersebut. Hal itu, kata Danar, membuat masyarakat cenderung menelan sebuah informasi secara mentah-mentah.

Ketiga, Danar berujar, fenomena merebaknya hoax di media sosial juga meningkat menjelang pemilihan kepala daerah atau pemilihan umum. Keempat, kultur politik masyarakat belum matang.

Penulis: 
Mislam
Sumber: 
PPID Babel
Error | Pejabat Pengelola Informasi Publik (PPID)

Error

The website encountered an unexpected error. Please try again later.