Primary tabs

Ketika Petani Go-Internasional (Internet, Edukasi dan Sistem Ekonomi Jaringan)

" INTERNET telah mengubah dunia. Sebuah geliat sejarah dahsyat yang kemudian disebut Revolusi Informasi memang sedang berlangsung dan masih akan menyisakan kejutan-kejutan baru di hari-hari mendatang: apa yang hari ini dianggap logis, esok hari mungkin sudah dianggap tidak masuk akal lagi. Hal itu disebabkan temuan-temuan dibidang ini senantiasa mencengangkan".

Batas-batas geografis, ras, agama dan perbedaan waktu, dengan mudah berhasil diluluhkan oleh penemuan Internet ini. Tahun 1999 lalu, diperkirakan ada 200 juta orang di seluruh dunia yang sudah bergabung ke dalam Internet. Malah, pada tahun 2001 diperkirakan sekitar 400 juta orang berselancar (surfing) pada 4 miliar halaman Web. Padahal, tahun 1997, angka ini hanya 50 juta.

Tak salah kalau ada yang mengatakan, kontribusi Internet dalam dunia iptek, TI (teknologi informasi) khususnya, memang sebuah break-through (terobosan): apa yang sebelumnya belum terpikirkan, atau masih dalam angan-angan, tiba-tiba sudah berubah jadi kenyataan dan sudah dimanfaatkan banyak orang di berbagai belahan dunia. Berbicara menggunakan SLI (Sambungan Langsung Internasional) saja cukup menggunakan Internet yang berpulsa lokal; video-conference yang semula sangat mahal dan rumit jadi sangat mudah dan nyaman dilakukan oleh siapa saja; mendistribusikan produk-produk multimedia jadi sangat hemat dan cepat melalui fasilitas download dan FTP (File Transfer Protocol ) saja; dan berbelanja apa saja cukup dengan mengklik tombol keyboard, mouse, bahkan ponsel.

Internet benar-benar telah menciptakan suatu revolusi yang amat penting. Penting karena ia telah mengubah banyak hal, memungkinkan banyak kegiatan untuk dilakukan, dan menginspirasi banyak orang.

A. Mengedukasi Masyarakat

Akan tetapi, satu hal yang sudah amat jelas: Internet menjanjikan banyak harapan dan impian. Indonesia, bagaimanapun, harus optimis untuk masuk dan mengembangkan bidang ini. Sebagai salah satu negara terbesar penduduknya di dunia dan sedang membangun, potensi Internet tentu sangat besar.

Persoalannya sekarang, bagaimana cara yang efektif mensosialisasikan potensi Internet ini kepada masyarakat? Mengapa kegiatan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat terhadap bidang ini dianggap sangat penting dan mendesak? Lalu siapa atau pihak mana yang akan melakukannya?

Jika melihat kondisi obyektif sekarang, rasanya sangat mustahil untuk menaruh harapan kepada pemerintah untuk melakukan peran itu. Di samping akan kesulitan dana, sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, pemerintah sekarang juga tidak menunjukkan minatnya untuk mengembangkan dan membangun teknologi informasi berbasis Internet ini.

Sekarang, tinggal pihak swasta, akademisi dan lembaga non-pemerintah yang memiliki komitmen untuk pengembangan Internet di Indonesia. Kita patut berterima kasih kepada sejumlah perusahan-perusahaan komputer, software, jaringan, dan lain-lain, yang sudah menganggarkan dananya untuk program pencerdasan masyarakat, kegiatan transfer of technology, dalam pemanfaatan Internet.

Kita tidak mungkin mengharapkan masyarakat akan mencintai Internet, jika kita belum dengan serius dan sungguh-sungguh mencoba memperkenalkan Internet kepada masyarakat.
Apalagi, ada mitos yang selama ini berkembang di tengah masyarakat bahwa yang namanya teknologi, termasuk Internet, pastilah sangat rumit, mahal dan harus bersekolah dulu untuk menguasainya.

Setidaknya ada empat langkah untuk melakukan edukasi terhadap masyarakat :

1. Melakukan perkenalan Internet yang melibatkan masyarakat umum

Perkenalan ini bisa dilakukan dalam rangkaian ekspo-ekspo komputer yang digelar di berbagai kota. Gunakan bahasa yang populer dan mudah dipahami, disertai dengan demo menggunakan Internet, sambil menunjukkan keunggulan dan keuntungan menggunakan Internet. Idiom-idiom seperti "kita bisa berbicara langsung atau menulis surat secara cepat kepada seseorang di Amerika Serikat yang dapat dilakukan dengan menggunakan pulsa lokal" atau "untuk menggunakan Internet tidak perlu sekolah komputer dulu" akan menggugah rasa ingin tahu masyarakat untuk mempelajari Internet.

2. Melakukan pelatihan tingkat lanjut

Segmen yang dibidik adalah anggota masyarakat yang sudah mengenal Internet secara sekilas, kini diarahkan menjadi pengguna Internet tingkat lanjut, yang mampu memanfaatkan fitur-fitur lain di Internet selain browsing dan e-mail. Segmen anak muda dan anak sekolah termasuk dalam langkah kedua ini.

3. Sosialisasi lewat media massa

Berita-berita mengenai Internet lewat media massa, baik media cetak maupun media elektronik, akan mengundang rasa ingin tahu masyarakat. Kalau hampir setiap hari masyarakat membaca ada berita-berita soal dotcom, download gratis di Internet, kuis di Internet, secara psikologis akan mempengaruhi dan menjadi daya tarik yang luar biasa dalam meningkatkan jumlah pengguna Internet.

4. Bantuan finansial pengadaan Internet

Langkah ini mungkin terbilang agak costly, tetapi untuk meraih benefit jangka panjang tidak ada salahnya dilakukan. Komunitas-komunitas masyarakat yang homogen, misalnya koperasi, kelompok petani, arisan, kelompok hobi, budayawan yang sudah teridentifikasi, sebaiknya diberikan bantuan seperangkat komputer yang memiliki akses ke Internet  untuk langganan ISP, mereka mungkin bisa patungan. Skema bantuan ini bisa berupa fasilitas kredit lunak atau hibah. Dengan cara ini, kelompok-kelompok masyarakat ini akan makin familiar dengan Internet, dan sekali waktu, ingin memiliki fasilitas milik sendiri pula.

B. Pelayanan Publik Online

Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten maupun Kota, dalam kerangka Otonomi Daerah dewasa ini, bisa mengambil inisiatif dalam mewujudkan pelayanan online bagi masyarakat. Pelayanan pembuatan KTP, kartu keluarga (KK), pengurusan izin usaha, konsultasi dengan pemerintah, bisa dilakukan secara online menggunakan Internet.

Langkah pertama: Pemda setempat harus membuat situs portalnya sendiri yang berfungsi sebagai gerbang untuk segala urusan publik di daerahnya.

Langkah kedua: Meningkatkan kualitas infrastruktur telekomunikasi di daerahnya.

Langkah ketiga: Melatih sumber daya aparat pemerintah yang bisa mengakses dan memenuhi permintaan layanan online ini.

Langkah keempat: Menyediakan fasilitas-fasilitas akses Internet secara murah -bahkan kalau dapat, gratis- bagi masyarakat untuk berhubungan dengan birokasi Pemda.

Untuk mewujudkan hal ini, perlu peran pihak ketiga, dalam hal ini pihak swasta, yang bergerak di bisnis jaringan untuk membangun dan menset-up kegiatan pelayanan online ini. Hal ini juga memungkinkan masyarakat bisa berhubungan langsung dengan Pak Gubernur, Pak Walikota atau Pak Bupati secara langsung via e-mail atau chatting. Fenomena e-government semacam ini akan mendukung keterbukaan dan transparansi sebagaimana yang dituntut secara luas dewasa ini. Dengan cara ini, otomatis masyarakat akan terbiasa menggunakan Internet karena merasa jauh lebih gampang, praktis dan dapat kepastian dalam berbagai urusan yang terkait dengan pemerintah.

C. Internet dan Ekonomi Masyarakat: Sistem Ekonomi Jaringan

Sebuah gagasan untuk mengedukasi masyarakat dan sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat, dewasa ini sedang diapungkan di Sumatra Barat. Menurut penggagasnya, di setiap nagari perlu dibangun suatu jaringan sistem informasi komunikasi canggih yang online dengan sistem global. (Nagari adalah sebuah istilah di Sumatra Barat yang menunjuk pada wilayah potensi social-capital dalam masyarakat yang secara geografis-administratif umumnya lebih luas dari desa.)

Intinya adalah pengembangan sistem jaringan berbasis teknologi informasi yang menghubungkan sentra-sentra kemandirian usaha masyarakat sehingga memungkinkan terbentuknya jaringan pasar domestik, regional, nasional dan internasional untuk kepentingan rakyat sebagai pelaku usaha. Jaringan ini dikembangkan agar anggota masyarakat siap bersaing dalam era globalisasi, dengan cara mengadopsi teknologi informasi dan sistem yang paling canggih sebagaimana dimiliki oleh lembaga-lembaga internasional.

 Dalam hal ini, sistem yang disebut sistem ekonomi jaringan berkontribusi mempercepat laju pencapaian demokrasi ekonomi sebagaimana diamanahkan oleh konstitusi. Bila akses terhadap berbagai sumber daya dilakukan secara bebas, maka berbagai ketidakseimbangan aliran informasi dan praktek-praktek disinformasi bisa diatasi. Pada akhirnya, ekonomi berbasis jaringan adalah suatu pendekatan perekonomian yang menghimpun para pelaku ekonomi, baik itu produsen, konsumen, internet service provider, equipment provider, cargo dan lain-lain dalam jaringan yang terhubung secara elektronik.

Bila informasi sudah didapatkan dengan sangat murah dan mudah oleh para petani, pedagang dan masyarakat, tidak mustahil lagi akan dicapai kemajuan penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat di masa yang akan datang.

Agaknya gagasan yang sangat kongkrit soal pemanfaatan Internet bagi masyarakat ini perlu didukung, terutama oleh perusahan-perusahaan jaringan internet sehingga akan melahirkan sinergi yang amat luar biasa: akses internet makin luas dan masyarakat langsung merasakan dampaknya terhadap peningkatan yang signifikan di bidang ekonomi.

Dengan demikian, boleh dikatakan, inilah peluang yang paling relevan dan efektif bagi negara seperti Indonesia yang sebagian besar penduduknya bermukim di desa dengan mata pencarian terbesar di sektor pertanian dalam memanfaatkan Internet di masa yang akan datang.

Bila masyarakat sudah cerdas dan merasakan bahwa Internet akan memudahkan mereka, tentu tidak sulit lagi untuk mengajaknya untuk menjadi pengguna Internet yang aktif. Bila itu terjadi, banyak sekali efisiensi yang akan dicapai, dan bukan tidak mungkin impian bahwa "di setiap rumah tangga Indonesia ada PC (personal computer) yang senantiasa terkoneksi ke Internet" akan terwujud. Mungkin baru sepuluh, dua puluh atau lima puluh tahun lagi itu terjadi. Tak apa. Bukankah daya-hidup (lifetime) Internet diperkirakan akan sangat panjang seperti kata Bill Gates, "Internet di masa depan tidak akan jauh berbeda dengan Internet hari ini, hanya saja akan menjadi lebih cerdas". Jadi, kenapa takut?***

Penulis: 
Ridwansyah
Sumber: 
PPID Babel